Semuanya tergantung pada Attitude

Coba kita simak berita dari detikNews berikut ini :

” Bagi penduduk Desa Matras, Sungai Liat, Bangka Belitung (Babel) memanfaatkan air dari sungai suatu hal yang biasa. Meskipun di sekitarnya, banyak terdapat senyawa timah. Aktivitas sehari-hari warga seperti mandi, mencuci dan memasak menggunakan air langsung dari aliran sungai. Pulau Bangka memang bukan daerah krisis air. Namun karena memiliki unsur kandungan timah, pengelolaan air masih menjadi persoalan warga desa. “Kita biasa cuci dan masak dari air sungai. Memang kata orang ada kandungan timah, tapi mau ambil air dari mana lagi?” Kata Wati, salah seorang warga kepada detikcom, di Desa Matras, Sungai Liat, Babel, Senin (18/1/2009). Kandungan timah di sekitar Pulau Bangka cukup tinggi. Mulai dari lautan hingga daratan. Wajar saja jika di Kepulauan Babel berdiri perusahaan penambang pasir timah terbesar di Indonesia yakni PT Timah. Namun sayang, mendapatkan air bersih dan layak dikonsumsi belum sepenuhnya dinikmati sebagian besar warga desa. “Awalnya saya mandi di sungai tapi tak terasa baik. Lalu saya berinisiatif buat sumur di depan rumah,” kata Brent, salah seorang pelajar Australia. Menurut Brent, di negeri asalnya, Australia sumber air cukup terbatas. Namun, dengan pengelolaan yang baik air menjadi mudah untuk dikonsumsi. “Di Australia air bisa diminum langsung dari kran. Tapi di sini cukup sulit, padahal banyak sumber air,” ungkap Brent. Brent adalah satu di antara 17 pelajar Australia lainnya yang menginap di Desa Matras. Selama satu bulan, mereka belajar dan bekerja di desa. Mereka adalah peserta Australia Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP). Program yang bertujuan untuk memperkenalkan budaya satu sama lain dan mempererat persahabatan antara Indonesia-Australia. Akhirnya, bersama 18 pemuda Indonesia lainnya, Brent dan bule-bule asal negeri kanguru tersebut membuat sumur buatan di sebuah rumah penduduk. Hasilnya, cukup lumayan. Berbekal proposal dan lobi ke sana kemari, pelajar-pelajar tersebut berhasil membuat sumur dengan air layak konsumsi. Modal sekitar Rp 7 juta dikumpulkan dari berbagai sponsor dan donatur dan digunakan untuk membeli mesin pompa, peralatan sumur. Air layak konsumsi pun didapat. “Akhirnya saya bisa mandi juga,” tutur Brent sambil tersenyum.”

(http://www.detiknews.com/read/2010/01/19/045411/1281193/10/beda-negara-beda-masalah-air)

Coba kita perhatikan berita di atas. Penduduk asli menganggap krisis air bersih sebagai sesuatu yang harus diterima apa adanya. Walau hal itu dapat merusak kesehatan mereka. Mereka apatis. Berbeda bagi pemuda Australia. Krisis Air bersih justru menjadikan mereka bekerja keras untuk dicarikan solusinya. Ironisnya, solusinya (sda berupa dana, material, tenaga kerja) ada pada daerah/penduduk tersebut.Dan akhirnya … cling !!!! mereka berhasil.

Penduduk Babel tersebut¬† mungkin mewakili sebagian besar penduduk Indonesia. Permasalahan- permasalahan hidup dihadapi dengan sikap pasrah dan apatis. Yang ditunggu oleh mereka adalah datangnya ‘malaikat’ yang dapat mengeluarkan mereka dari permasalahan tersebut. Padahal potensi yang ada pada mereka, justru merupakan ‘obat’ bagi permasalahan mereka. Ya. Semuanya hanya tergantung pada attitude.Itu yang membedakan antara penduduk desa Matras – Babel dengan pemuda dari Australia dalam menyikapi permasalahan yang sama – krisis air bersih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: