Kenapa berkata sopan pada orang lain, tapi pada anak-anak tidak ?

Pada suatu hari, saya berjalan dengan tergesa-gesa karena hari sudah mulai malam dan saya masih harus menyiapkan makan malam bagi keluarga. Sudah menjadi kesepakatan kami untuk selalu berkumpul bersama pada setiap makan malam setelah satu hari sibuk dalam pekerjaan masing-masing. Di tengah perjalanan, saya menabrak seorang yang tidak saya kenal ketika ia berpapasan dengan saya. Akibatnya barang bawaan kami berdua berjatuhan dan berantakan.

“Oh, maafkan saya” adalah reaksi pertama saya sambil tersenyum menyesal.
Ia berkata, “Maafkan saya juga, Saya tidak melihat Anda juga.” 

Waktu itu, terbersit perasaan bersalah karena saya tidak melihat orang tersebut berjalan kearah saya dan perasaan menyesal karena sudah membuat barang bawaannya berhamburan. Baik saya maupun orang tidak dikenal itu, berusaha untuk bersikap sesopan mungkin agar tidak menyakiti satu sama lain. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Pada hari itu juga, dengan keterbatasan waktu yang ada, saya membuat makan malam secepat mungkin. Saat saya akan membalikkan badan untuk memindahkan masakan ke piring saji. Saya terkejut karena adanya sekelebatan bayangan di depan saya. Anak lelaki saya berdiri diam di belakang saya selama saya memasak. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. “Minggir-minggir, jangan berdiri di tengah seperti itu!,” kata saya  dengan  marah. Tanpa berkata apa-apa, ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa  kasarnya kata-kata saya kepadanya.

Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan  berbicara padaku, “Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi kepada anak-anak yang engkau kasihi, engkau memperlakukan mereka dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu. Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah  muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak  menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu.”

Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya,

“Bangun, nak, bangun,” kataku. “Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?”

Ia tersenyum, “Aku menemukannya jatuh dari pohon.” Jawabnya polos.

“Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti mama.  Aku tahu mama akan menyukainya, terutama yang berwarna biru.”

Aku berkata, “Nak, mama sangat menyesal karena sudah kasar padamu; mama seharusnya tidak membentakmu seperti tadi.”

Si kecilku berkata, “Gak apa-apa, ma. Aku tetap  sayang mama.”

Aku pun membalas, “Anakku, aku sayang kamu juga, dan aku  benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru.”

Pernahkah anda berpikir jika kita mati besok, seberapa cepat perusahaan  mencari pengganti posisi kita? Besok? Satu minggu lagi? Pengganti kita akan cepat ditemukan dalam hitungan hari. Bagaimana dengan keluarga kita? Seberapa cepat keluarga kita mencari pengganti kita? setahun? sepuluh tahun? Posisi anda tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun!!! Keluarga kita tidak akan pernah mengganti posisi kita dengan siapapun.

Mari kita renungkan, seberapa seimbangkah waktu yang anda bagikan antara keluarga dan pekerjaan. Apakah kita lebih banyak menghabiskan waktu di kantor, toko atau di rumah? Pernahkah kita berpikir bahwa ternyata kita lebih gampang bersikap ramah terhadap orang lain dibandingkan kepada keluarga? Ya, kita lebih sering bersikap ramah terhadap orang lain daripada terhadap anak-anak kita sendiri.

Pernahkah kita menanyakan dan mencari tahu dengan sabar alasan anak kita ketika ia berperilaku menjengkelkan ?Terkadang anak-anak mengungkapkan sesuatu yang menurut kita sangat menjengkelkan dan seharusnya tidak mereka lakukan, namun ternyata dibalik kelakuan itu ada maksud baik. Tanyakan kepada mereka penyebab mereka melakukan perbuatan tersebut SEBELUM ANDA MEMARAHINYA ATAU MENEGURNYA.

Semoga cerita diatas dapat menginspirasi kita bahwa terkadang kita lebih cepat mengekspresikan perasaan yang ada dalam diri pada keluarga ketimbang pada orang lain tanpa memikirkan lebih panjang lagi.

Diterjemahkan dari: HARSH WORDS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: