Babak Akhir dan Hikmah Kasus Bibit – Chandra

Babak Akhir Kasus Bibit Chandra

Setelah mengalami kontroversi selama satu bulan lebih, Presiden RI akhirnya mengeluarkan Keputusan Presiden  Nomor 101/P Tahun 2009 tertanggal 4 Desember 2009 itu berisi pemberhentian dengan hormat Plt Sementara Pimpinan KPK Mas Ahmad Santosa (Ota) dan Waluyo serta pengaktifan Bibit dan Chandra [1]. Keppres ini ditandatangani Presiden berdasarkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) yang dikeluarkan oleh kejaksaaan Negeri Jakarta Selatan tanggal 1 Desember 2009[2] . Menurut kejaksaan yang disampaikan oleh Marwan (Jaksa Agung Muda bidang Pidana Khusus) pada konferensi pers hari senin, 30 Nopember 2009, alasan dikeluarkannya SKPP terdiri dari alasan yuridis dan alasan sosiologis. “Alasan yuridisnya bahwa perbuatan kedua tersangka, baik Pak Chandra maupun Pak Bibit S Rianto, meskipun telah memenuhi rumusan delik yang disidangkan Pasal 12 (e) dan 23 UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 4b, tetapi karena dipandang bahwa kedua tersangka tidak menyadari dampak yang ditimbulkan, dan dinilai sebagai hal wajar dalam tugas dan kewajibannya, dan sudah dilakukan oleh para pendahulunya, maka dapat diterapkan Pasal 50 KUHP,” kata Marwan.

Adapun Pasal 50 KUHP menentukan “Orang yang melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang tidak boleh dipidana.”
Sementara itu, alasan sosiologisnya terbagi dalam tiga hal, yakni pertama, ada suasana kebatinan yang membuat perbuatan tersebut tak layak diajukan ke pengadilan karena lebih banyak mudarat dari pada manfaat. Kedua, untuk menjaga keterpaduan atau harmonisasi lembaga penegak hukum, polisi, kejaksaan, dan KPK dalam menjalankan tugasnya. Ketiga, masyarakat memandang perbuatan kedua tersangka tidak layak dipertanggungjawabkan kepada keduanya. Sebab, perbuatan tersebut dalam rangka melaksanakan tugas dan wewenang dalam pemberantasan korupsi yang memerlukan terobosan-terobosan hukum.[3]

Pelajaran dari Kasus Bibit dan Chandra

Kemelut kasus Bibit dan Chandra harus pula menjadi pelajaran bagi Presiden Yudhoyono untuk lebih berhati- hati memilih partner jika memang serius memerangi korupsi. Sebab, kasus ini telah membuka mata publik. Gerakan reformasi yang dimulai pada 1998 ternyata belum bisa membersihkan institusi seperti kepolisian dan kejaksaan. Makelar kasus masih merajalela. Dengan kata lain, Presiden belum bisa mengandalkan dua institusi ini untuk memberantas korupsi. Maka, sungguh keliru bila pemerintah memusuhi KPK, lantaran lembaga ini justru amat dibutuhkan.

Antusiasme masyarakat menyokong keberadaan KPK seharusnya pula dimanfaatkan. Momentum ini jangan dibiarkan hilang atau malah dibungkam dengan menggelar demo tandingan serta melarang massa berunjuk rasa.Presiden Yudhoyono justru bisa menggunakan momentum ini untuk membenahi kepolisian dan kejaksaan.

Kasus Bibit-Chandra juga menunjukkan bahwa sokongan dari para politikus Dewan Perwakilan Rakyat tidak cukup untuk membungkam masyarakat yang menginginkan pemberantasan korupsi jalan terus. Sikap kalangan DPR, khususnya Komisi III, yang terkesan mendukung kasus kriminalisasi pimpinan KPK, masih tampak hingga sekarang. Buktinya, mereka masih mempersoalkan keluarnya surat penghentian kasus Bibit dan Chandra.

Itu sebabnya, sulit pula bagi pemerintah untuk mengandalkan kalangan DPR bila benar-benar ingin memerangi korupsi. Presiden Yudhoyono belum terlambat untuk mengubah “strategi perang”dengan menjadikan penghentian kasus kriminalisasi pejabat KPK sebagai titik tolak. Publik pasti menyokong penuh jika KPK diberi ruang yang luas untuk bergerak.[4]

[1] http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/288996/

[2] http://www.detiknews.com/read/2009/12/01/141352/1251909/10/marwan-skpp-bibit-chandra-sudah-ditandatangani

[3] http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/11/30/17320316/inilah.alasan.pembebasan.chandra.dan.bibit

[4] http://tempointeraktif.com/hg/opiniKT/2009/12/02/krn.20091202.183555.id.html

dari Kasus Bibit-Chandra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: