Ironi : krisis listrik di kota kaya raya

Tahun 2009 ini termasuk tahun terparah dalam sejarah kelistrikan di pekanbaru.. Bayangkan, dalam sehari telah dilakukan pemadaman bergilir selama 9-12 jam sehari. Kalau di cari alasan, emang mudah… kalau pas musim kemarau, PLN beralasan debit air di sumatera barat berkurang sehingga pasokan air berkurang akibatnya.. listrik jadi berkurang. Kalau musim hujan, alasannya lain lagi.. Lagi ada perbaikan mesin ha ha ha.. Ada 2 hal pokok yang membuatku gak habis pikir :

1. kalau saya mempunyai sebuah perusahaan, bila punya konsumen yang terus meningkat, dah pasti senang. Semua kebutuhan konsumen diusahakan ada, apapun caranya. Secara sederhana kita dapat memprediksi apa kebutuhan konsumen, berapa yang dibutuhkan semua dapat dihitung dengan mudah. Demikian pula seharusnya dengan PT PLN (mungkin karena monopoli kali yaa), konsumennya dah jelas tiap tahun pasti bertambah. Kata Wakil Direktur Utama PLN Rudiantara (Koran Tribun Pekanbaru tanggal 25 Agustus 2009), konsumsi listrik secara nasional tumbuh sebsar 1,7 %. Kalau di Kota Pekanbaru atau di propinsi Riau ? dah pasti ada itung-itungannya lah PLN ini. Kalau jelas ada pertumbuhannya, terus berapa kapasitas listrik yang ada sekarang ? Manajer Operasional PLN Robert Aritonang (Tribun Pekanbaru edisi 25 Agustus 2009) mengatakan untuk riau defisit 108 MW, khusus untuk pekanbaru defisit 80 MW.  Sekarang direncanakan dibangun PLTU dengan kapasitas 2 x 100 MW yang akan selesai tahun 2012. Pertanyaannya, kenapa gak dari dulu direncanakan solusinya ? Apakah pembangunan tersebut berkaitan dengan diadakannya PON di Pekanbaru ?

2. Propinsi Riau umumnya dan khususnya Kota pekanbaru termasuk daerah kaya, bawah minyak (bumi), atas juga minyak (sawit). Di tambah dengan APBD yang jumlahnya triliunan per tahun (Kota Pekanbaru 2009 = 1,257 Triliun rupiah, Propinsi Riau 2009 = 4,3 Triliun Rupiah Bandingkan dengan APBD Sumbar yang cuma 1,707 triliun Rupiah). Dalam segala hal, masih tergantung ama Sumatera Barat, dari kebutuhan sehari-hari seperti beras sampai listrik. Pertanyaannya, dengan uang bejibun gitu, kenapa malah terjadi krisis listrik ? apa tidak dianggarkan untuk mandiri listrik seperti di Sumbar ?

Sebuah ironi yang mengenaskan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: