Krisis Bangsa Indonesia (2)

Sekarang kita sebaiknya gak usah menyalahkan kenapa kok bisa terjadi krisis -dari segi manapun, dari politik, sosial, budaya, agama kita ini masih lemah, banyak sisi salahnya-, percuma.. Buang2 energi … (energi dah krisis, mau dibuang lagi… apa gak nambah krisis energi he he he). Lalu, gimana solusinya ? yang jelas kita membutuhkan pemimpin yang visioner (selain tentunya pemimpin yang kuat, baik fisik amaupun ilmunya, dan dapat dipercaya) untuk mengeluarkan bangsa ini dari krisis yang berkepanjangan. Tapi hal ini jangan dianggap sebagai promosi salah satu calon dalam pilkada (Gubernur Riau,  yang akan dilaksanakan bulan september 2008) atau Pilpres (yang akan diadakan tahun 2009). Sekarang pertanyaannya, pemimpin yang visioner itu dseperti apa ? Untuk menjawab hal ini, saya akan memberikan ilustrasi cerita sebagai berikut :

” kemarin tanggal 22 Juni 2008, seorang pegawai (namanya Edy Suk) dari kantor pusat DJP memberikan penyuluhan tentang pemetaan untuk Pajak Bumi dan Bangunan dengan sistem informasi yang bernama SISMIOP (Sistem Informasi dan Manajemen Obyek Pajak), yang menarik perhatian saya dari pemaparan beliau adalah ketika beliau cerita tentang kehebatan Kepala kantor PBB sorong yang berhasil memetakan wilayah kerjanya dengan pola SISMIOP ( Saya gak perlu cerita tentang SISMIOP ini sebab perlu berpuluh2 halaman, intinya mendata obyek pajak dengan mengukur per bidang tanah, memetakannya dan sekaligus menilai (mencari nilai) berapa harga per m2 tanah tersebut menurut harga pasar), walaupun ada keterbatasan dana dan SDM (tenaga ahli, fungsional PBB). Padahal wilayahnya itu, terdiri dari beberapa pulau dan dilalui oleh sungai dan lautan -tahu sendiri lah pulau Papua. Kalau dihitung hitung kata kepala kantor ini, dia menghabiskan dana sebesar Rp.18.000.000,- untuk melakukan pendataan ini. Ketika ditanya berapa jumlah PBB dari hasil pendataan ini ? jawabnya, kurang dari Rp. 18 juta. Lhooooo…. Secara matematis, tekor donk … Biaya pendataan Rp. 18 juta, yang diperoleh : jumlah PBB nya kurang dari Rp 18 juta. Saat ditanya hal demikian, secara kasarnya, ngapain mendata habis Rp.18 juta, toh hasilnya kurang dari Rp. 18 juta … Dengan tersenyum, kepala KP PBB Sorong itu berkata, untuk jangka pendek yaa tekor, tapi untuk jangka panjang itu jelas menguntungkan … Logikanya dimana ? jawabnya, saya kepingin investor masuk ke sorong. Investor mau masuk bila ada kepastian nilai. Untuk pembebasan lahan misalnya, dia perlu kepastian dimana lokasi dan berapa lahan yang perlu dibebaskan dan berapa ganti ruginya kalau mau berinvestasi. Untuk mengetahui lokasi dan jumlah lahan, itu perlu data – dan berapa nilai ganti rugi itu mengacu ke NJOP. Kalau kita punya peta dan NJOP PBB kita berkualitas tentu investor mau masuk ke Sorong. Luar biasa……. acungan jempol eh kurang 1000 jempol buat kakap PBB Sorong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: